Halaman

Minggu, 09 Februari 2014

Kisah Hamba Allah Yang Mendapat Nikmat dan azab di alam kubur


Kisah Hamba Allah Yang Mendapat Nikmat dan azab di alam kubur

by webadmin
 Kisah hamba Allah yang mendapat ni'mat dan adzab di alam kubur
 Dari Al-Bara’ bin ‘Azib Radhiyallaahu 'anhu , dia berkata:
“Kami keluar bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membawa sesosok jenazah seorang laki-laki dari kalangan Anshar. Kamipun sampai di kuburan, dan ketika dia sudah dimasukkan ke dalam liang lahad Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam lantas duduk menghadap kiblat dan kamipun duduk di sekitar beliau, seakan-akan ada burung di atas kepala kami.
Di tangan beliau ada sebatang ranting kayu untuk memukul-mukul tanah. Beliau sesekali melihat ke langit dan sesekali melihat ke tanah. Selanjutnya beliau mendongakkan pandangan dan agak menundukkannya sedikit sebanyak tiga kali. Lalu beliau bersabda:

Kamis, 06 Februari 2014

4 Ayat Dalam Surat Adz-Dzaariyaat

Tadabbur 4 Ayat Dalam Surat Adz-Dzaariyaat (Ayat 55-58)

Al Qur'an
AYAT 55
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS adz-Dzaariyaat ayat 55)

PENJELASAN SYARHUSSUNNAH LIL MUZANI (BAG 13)

PENJELASAN SYARHUSSUNNAH LIL MUZANI (BAG 13)

by webadmin
Ditulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman
MANUSIA DIKUMPULKAN DAN MENGALAMI PERHITUNGAN AMAL
Al-Muzani rahimahullah menyatakan:
وَبَعْدَ الْبِلَى مَنْشُوْرُوْنَ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى رَبِّهِمْ مَحْشُوْرُوْنَ وَلَدَى الْعَرْضِ عَلَيْهِ مُحَاسَبُوْنَ بِحَضْرَةِ الْمَوَازِيْنِ وَنَشْرِ صُحُفِ الدَّوَاوِيْنَ أَحْصَاهُ اللهُ وَنَسُوْهُ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ لَوْ كَانَ غَيْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ اْلحَاكِمُ بَيْنَ خَلْقِهِ لَكِنَّهُ اللهُ يَلِي الْحُكْمَ بَيْنَهُمْ بِعَدْلِهِ بِمِقْدَارِ اْلقَائِلَةِ فِي الدُّنْيَا وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِيْنَ كَمَا بَدَأَهُ لَهُمْ مِن ْشَقَاوَةٍ وَسَعَادَةٍ يَوْمَئِذٍ يَعُوْدُوْنَ فَرِيْقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيْقٌ فِي السَّعِيْرِ
dan setelah hancur binasa mereka dibangkitkan. Pada hari kiamat mereka dikumpulkan menuju Tuhan mereka. Di masa penampakan amal mereka dihisab. Dengan dihadirkannya timbangan-timbangan dan ditebarkannya lembaran-lembaran (catatan amal). Allah menghitung (dengan teliti) sedangkan mereka melupakannya. (Hal itu terjadi) pada hari yang kadarnya (di dunia) adalah 50 ribu tahun. Kalaulah seandainya bukan Allah sebagai hakimnya (niscaya tidak akan bisa), akan tetapi Allahlah yang menetapkan hukum di antara mereka secara adil. Sehingga lama waktunya (bagi orang beriman) adalah sekadar masa istirahat siang di dunia, dan Dialah (Allah) Yang Paling Cepat Perhitungan (Hisab)nya. Sebagaimana Dia memulai (penciptaan) mereka, ada yang sengsara atau bahagia, pada hari itu mereka dikembalikan. Sebagian masuk surga sebagian masuk neraka.
PENJELASAN:

Benarkah Syiah Mencintai Keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam?

Kajian Utama ” Benarkah Syiah Mencintai Keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam?”

Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Agama Syiah menganggap dirinya sebagai pecinta keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka menampakkan diri seolah-olah hanya merekalah yang cinta kepada ahlul bait. Setelah itu, mereka menuduh Ahlus Sunnah (Islam) sebagai kelompok nawashib, yang bermakna membenci Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan membenci keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebenarnya, kalau menilai secara adil, kita akan mengetahui bahwa Ahlus Sunnah sangat mencintai keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak membenci seorang pun dari mereka yang mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalil-dalil tentang keutamaan ahlul bait sangat banyak disebutkan dalam riwayat-riwayat Ahlus Sunnah, baik al- Qur’an maupun hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai ahlul bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (al-Ahzab: 33)
Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan ayat ini, “Yang tampak, ayat ini bersifat umum, mencakup seluruh keluarga Nabi n, dari kalangan istri-istrinya dan yang lainnya.” (Tafsir al-Qurtubi, 14/183)
Ahlus Sunnah juga meriwayatkan dari jalur Adi bin Tsabit, dari Zir, dari Ali bin Abi Thalibradhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Demi Allah yang membelah biji-bijian dan yang menciptakan makhluk. Sesungguhnya janji Nabi yang ummi n kepadaku, bahwa tidak ada yang mencintaiku selain seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku selain seorang munafik.” (HR. Muslimno. 78)
Seandainya Ahlus Sunnah membenci Ali radhiyallahu ‘anhu, sudah tentu mereka tidak akan meriwayatkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan beliau radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya. Hampir setiap kitab-kitab hadits yang menjadi rujukan Ahlus Sunnah menyebutkan keutamaan keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam secara umum, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu secara khusus. Lantas bagaimana halnya dengan kaum Syiah?

Rabu, 05 Februari 2014

Faedah-Faedah Fiqhiyah dari Kitab Umdatul Ahkam (Hadits Kesepuluh)

Faedah-Faedah Fiqhiyah dari Kitab Umdatul Ahkam (Hadits Kesepuluh)

umdatul-ahkam-copy-704x318
عَنْ نُعَيْمِ الْمُجْمِرِ عَنْ أبيِ هريرة رَضِيَ الله عَنْهُ عَنِ النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم أنَهُ قَالَ: «إنَّ أمتي يُدْعَون يومَ القيَامةِ غُرُّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثارِ الْوُضُوءِ، فَمن استطَاَعَ مِنْكُمْ أن يُطِيلَ غرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ».
وفي لفظ آخر: رَأيْتُ أبَا هُريرةَ يتوضأ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيهِ حَتى كَادَ يَبْلُغُ المَنْكِبَينِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ حَتَى رَفَعَ إلَى السَّاقَيْن، ثُمَّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «إن أمتي يُدْعَوْنَ يَوْم القِيَامَةِ غرا مُحَجلِين من آثار الوُضُوءِ، فمَنِ اسْتَطَاَعَ مِنْكُمْ أنْ يُطِيل غرته وَتَحْجيلَهُ فَلْيَفْعَل».
وفي لفظ لمسلم: سَمِعْتُ خليلي صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: « تبلغ الحِلْيَةُ من الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوُضُوءُ».
“dari Nu’aim Al Mujmir, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari kiamat dalam keadaan putih bercahaya disebabkan bekas wudhu, barangsiapa di antara kalian bisa memperpanjang cahayanya hendaklah ia lakukan.” [HR. Al Bukhary – Muslim]
dalam lafazh yang lain: “aku melihat Abu Hurairah berwudlu, lalu membasuh wajahnya dan kedua tangannya hingga hampir mencapai lengan, kemudian membasuh kedua kakinya hingga meninggi sampai pada kedua betisnya, kemudian dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan putih bercahaya disebabkan bekas wudhu. Maka barangsiapa di antara kalian mampu untuk memanjangkan putih pada wajahnya maka hendaklah dia melakukannya’.” [HR. Muslim]
dalam lafazh Muslim: “Perhiasan seorang mukmin adalah sejauh mana air wudhunya membasuh.”
Faedah yang terdapat dalam Hadits:
1. Keutamaan berwudhu, yang mana bekas wudhu menjadi sebab dia mendapatkan cahaya putih berkilau nan indah pada muka, tangan dan kakinya.
2. Sebagian ulama berdalil dengan hadits ini, bahwa wudhu merupakan khushushiyah (syariat yang khusus) untuk umat islam. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah_rahimahullah. Mereka juga berdalil dengan hadits:
لَكُمْ سِيمَا لَيْسَتْ لِأَحَدٍ مِنْ الْأُمَمِ
“Kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki oleh umat-umat selainnya.” [HR. Muslim, dari shahabat Abu Hurairah_radhiyallahu 'anhu]
Namun jumhur ulama berpendapat bahwa wudhu juga merupakan syariat umat-umat terdahulu. Dengan dalil-dali sebagai berikut:

Selasa, 04 Februari 2014

Faedah – Faedah Fiqhiyah Dari Kitab ‘Umdatul Ahkam (Hadist Kedelapan)

Faedah-Faedah Fiqhiyah dari Kitab Umdatul Ahkam (Hadits Kedelapan)

umdatul-ahkam-copy-704x318
عَنْ عَمْرٍو بْنِ يَحْيَى المازِنِي عَنْ أَبِيهِ قَالَ: شَهِدْتُ عَمْرَو بْنَ أَبِي حَسَنٍ سَأَلَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ زَيْدٍ عَنْ وُضُوءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَعَا بِتَوْرٍ مِنْ مَاءٍ فَتَوَضَّأَ لَهُمْ وُضُوءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكْفَأَ عَلَى يَدِهِ مِنْ التَّوْرِ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلَاثَ غَرَفَاتٍ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ يَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَمَسَحَ رَأْسَهُ فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ.
وفي رواية: بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ ثُمَّ رَدَّهُمَا حَتَّى رَجَعَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ.
وفي رواية: أَتَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْرَجْنَا لَهُ مَاءً فِي تَوْرٍ مِنْ صُفْرٍ.
“Dari ‘Amru bin Yahya Al Maziny dari Bapaknya berkata, “Aku pernah menyaksikan ‘Amru bin Abu Hasan bertanya kepada Abdullah bin Zaid tentang wudlunya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu ia minta diambilkan satu bejana air, kemudian ia memperlihatkan kepada mereka cara wudlu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia menuangkan air dari bejana ke telapak tangannya lalu mencucinya tiga kali, kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu berkumur-kumur, lalu memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkannya kembali dengan tiga kali cidukan, kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu membasuh mukanya tiga kali, kemudian membasuh kedua tangannya dua kali sampai ke siku. Kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu mengusap kepalanya dengan tangan; mulai dari bagian depan ke belakang dan menariknya kembali sebanyak satu kali, lalu membasuh kedua kakinya hingga mata kaki.” [HR. Al Bukhary dan Muslim]
Dalam riwayat lain: “dimulai dari bagian depan dan menariknya hingga sampai pada bagian tengkuk, lalu menariknya kembali ke tempat semula.”
Dalam riwayat lain: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang, lalu kami menyiapkan air dalam sebuah bejana yang terbuat dari tembaga.”
Faedah yang terdapat dalam Hadits:

Senin, 03 Februari 2014

HUKUM OTOPSI JENAZAH

Hukum Otopsi Jenazah

by webadmin
Hukum otopsi jenazah muslim untuk belajar ilmu kedokteran Islam sebagai agama yang  sempurna menetapkan beberapa kaedah untuk menjawab permasalahan yang belum terjadi pada zaman Rosululloh. Diantara kaedah tersebut adalah:
 Apabila bertentatangan antara dua kemaslahatan maka diambil maslahat yang terbesar demikian juga bila bertentangan antara dua mafsadah maka diambil yang paling ringan. (Al Qowaidul Fiqhiyah karya Asy Syaikh As Sa'di) Masalah otopsi dan bedah mayat muslim atau dzimmi masuk dalam kaedah ini, karena otopsi banyak mengandung faedah yang sangat besar seperti mengungkap tindakan kriminalitas mendeteksi sedini
mungkin adanya wabah menular sehingga cepat bisa diatasi dan beberapa manfaat lainnya. Juga apa yang lakukan oleh mahasiswa kedokteran untuk melakukan bedah mayat dalam rangka belajar banyak mengandung manfaat untuk ummat. Semua ini walaupun bertentangan dengan maslahat menjaga kehormatan mayat, maka harus dilihat mana yang lebih besar masalahatnya sehingga bisa dihukumi boleh ataukah tidak?