Halaman

Rabu, 30 Mei 2012

MEMBERIKAN PENGHARGAAN KEPADA MUSUH ISLAM, GAMBARAN RAPUHNYA KEIMANAN


MEMBERIKAN PENGHARGAAN KEPADA MUSUH ISLAM, GAMBARAN RAPUHNYA KEIMANAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillah ‘ala kulli haal, ketika dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sedang berhadap-hadapan dengan proyek besar Kristenisasi atas nama PROYEK SOSIAL, sebagian orang yang mengaku muslim justru memberikan penghargaan kepada orang yang dicurigai berada di balik gerakan pemurtadan umat Islam tersebut.
Sangat disayangkan, penghargaan tersebut di berikan di sebuah stasiun televisi swasta; Metro TV yang sebelumnya telah memfitnah ma’had Ahlus Sunnah di Yaman sebagai tempat pendidikan teroris.[1] Ada apa dengan Metro TV!?
Berikut kutipan berita di sebuah media,
“Romo Carolus, demikian dia akrab disapa. Sehari-hari pria yang memiliki nama lengkap Charles Patrick Edwards Burrrows, OMI itu menjadi Pastor di Paroki St Stephanus Cilacap. Dia telah menghabiskan waktu lebih dari 40 tahun menjadi motor perubahan sosial di Cilacap lewat sejumlah aksi sosial di bidang pendidikan, kesehatan, perekonomian, infrastruktur, dan lainnya. Tak ayal, Maarif Institute menganugerahinya MAARIF AWARD 2012 atas keberhasilan Carolus menyuntikkan semangat baru dan menumbuhkan model alternatif untuk penguatan dan pemberdayaan masyarakat di Cilacap. Pria kelahiran Dublin, Irlandia Selatan, 8 April 1943 itu menapakkan kaki kali pertama di Indonesia pada 9 September 1973, setelah bertugas di Paroki Sefton, Sydney, Australia. Setiba di Indonesia, anak keempat dari lima bersaudara itu diutus ke Cilacap. Di kabupaten terbesar di Jawa Tengah inilah Romo merasakan jatuh cinta pada Kampung Laut, sebuah kecamatan miskin nan terpinggirkan dengan empat desa, yakni UJUNGALANG, UJUNGGAGAK, KLACES dan PENIKEL.”
Media tersebut juga menginformasikan,
“Soal dana, dia menuturkan, seluruh programnya bisa berjalan karena ia rajin mencari dana ke sejumlah LSM di luar negeri dan kedutaan besar untuk membiayai misi kemanusiaan tersebut. Di antaranya dari Australia, Kanada, Jerman, Belanda, Irlandia, dan Amerika Serikat. Terakhir, ia memperoleh dana bantuan Rp 10 MILLIAR untuk pembangunan jalan di 100 desa di Cilacap.”
Dari media lain,
“Charles Patrick Burrows, OMI dan Ahmad Bahruddin menjadi dua nama penerima penghargaan Maarif Award 2012 yang diumumkan di Studio Metro TV, Jakarta, Sabtu malam. Charles Patrick Burrrows yang akrab disapa Romo Carolus adalah pastor Paroki St. Stephanus Cilacap, kelahiran Irlandia yang memberdayakan masyarakat KAMPUNG LAUT Cilacap sehingga keluar dari jurang kemiskinan.”
Sungguh mengagetkan kita sebagai muslim, ternyata yang memberikan pernghargaan adalah Mantan Ketua Umum PP. Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif yang cenderung liberal, bahkan menurutnya, Front Pembela Islam (FPI) pun hormat kepada orang kafir ini. Media memberitakan,
“Kekemanusiannya dan kesalehan sosialnya yang tinggi mengundang decak kagum siapa saja, termasuk tokoh-tokoh nasional. “Jarang ditemukan orang yang seperti ini. Dimensi kemanusiaannya jauh lebih dalam. Seorang FPI saja hormat kepada dia,” kata Buya Syafii Maarif pendiri Maarif Institute dalam sambutannya pada malam penganugerahan Maarif Award di Metro TV, Jakarta, Sabtu Malam. Buya Syafii berharap muncul generasi-generasi muda yang meniru dan bertindak seperti Romo Carolus.”
 Selesai kutipan.
Beberapa Catatan Sebagai Nasihat
Pertama: Aqidah Islam yang benar, Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengajarkan kita untuk membenci musuh Allah ta’ala, bukannya memberikan penghormatan dan penghargaan kepadanya.
Meskipun Mantan Ketua Muhammadiyah, Ahmad Syafii Ma’arif dan Front Pembela Islam (FPI) menghormati dan memberikan penghargaan kepada Anda, namun kami berlepas diri dari Anda, sebab keimanan kami kepada Allah ta’ala sebagai sesembahan yang benar dan semua yang disembah selain-Nya adalah salah, menuntut kita untuk memusuhi musuh Allah (yaitu orang-orang yang kafir kepada-Nya) dan mencintai wali-Nya (yaitu orang-orang yang beriman kepada-Nya).
Allah ta’ala menegaskan,
لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir; berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, meskipun musuh Allah tersebut adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka dan karib kerabat mereka.” [Al-Mujadalah:  22]
Juga firman Allah jalla wa ’ala,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu PERMUSUHAN dan KEBENCIAN buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” [Al-Mumtahanah: 4]
Juga firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai orang-orang yang kamu cintai; sebahagian mereka (orang-orang kafir) hanya pantas menjadi orang-orang yang dicintai bagi sebahagian yang lain (orang-orang kafir pula). Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka sebagai orang-orang yang dicintai, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka.Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” [Al-Maidah: 51]
Kedua: Aqidah Islam yang benar, Aqidah As-Salafus Shalih, Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengajarkan kepada kita agar jangan silau dan tertipu dengan amalan-amalan orang-orang kafir, sebab seluruh amalan mereka tertolak, tidak diterima oleh Allah tabaraka wa ta’ala. Hal itu disebabkan karena mereka telah melakukan dosa yang paling besar, yaitu menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dan kafir kepada-Nya.
Allah ta’ala berfirman,
وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلاَّ أَنَّهُمْ كَفَرُواْ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ
“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka harta-harta sedekah mereka (oleh Allah ta’ala) melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” [At-Taubah: 54]
Juga firman-Nya,
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُورًا
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka (orang-orang kafir) kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [Al-Furqon: 23]
Juga firman-Nya,
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88]
Juga firman-Nya,
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah amalanmu.” [Az-Zumar: 65]
Ketiga: Aqidah Islam yang benar, Aqidah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan sahabatnya mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani adalah musuh yang akan terus berusaha menyesatkan kita.
Allah ta’ala berfirman,
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِير
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” [Al-Baqoroh: 120]
Juga firman-Nya,
وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) memurtadkan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” [Al-Baqoroh: 217]
Keempat: Aqidah Islam yang benar, yang diyakini seluruh ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, termasuk Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad bahwa seluruh orang-orang kafir adalah penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya. Allah ta’ala telah menghinakan mereka di dunia dan akhirat, bagaimana bisa seorang muslim memberikan penghormatan dan penghargaan kepada mereka?!
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.” [Al-Bayyinah: 6]
Juga firman-Nya,
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami!?Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” [Al-Furqon: 44]
Juga firman-Nya,
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]
Kelima: Aqidah Islam yang benar, Aqidah yang berlandaskan Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ Ulama, mengajarkan kepada kaum muslimin bahwa para pendeta Nasrani adalah penipu umat, pemakan harta manusia dengan cara yang batil dan pemalsu kitab suci untuk meraup keuntungan duniawi dan menyesatkan manusia.
Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّ كَثِيرًا مِّنَ الأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan Pendeta-pendeta Kristen benar-benar memakan harta manusia dengan cara yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” [At-Taubah: 34]
Juga firman-Nya,
فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِندِ اللَّهِ لِيَشْتَرُواْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُونَ
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan (duniawi) yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” [Al-Baqorah: 79]
Bukti akan hal ini telah kami sebutkan pada artikel:
Link: http://nasihatonline.wordpress.com/2012/04/05/download-dialog-nasihat-pengakuan-mantan-misionaris-kristen-dan-bukti-kebenaran-al-quran-kebanyakan-pendeta-kristen-adalah-koruptor-dan-pemalsu-kitab-suci/
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

[1] Kedustaan Metro TV ini telah kami bantah pada dua link berikut:
Dalam hal pemberitaan tersebut Metro TV terkesan licik, sebab hasil wawancara mereka dengan Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah, jauh berbeda dengan berita yang mereka sebarkan kepada masyarakat Indonesia, sedang wawancara itu sendiri tidak diberitakan. Alhamdulillah Ikhwan di Ma’bar berhasil mendokumentasikan wawancara tersebut pada dua link berikut:

Selasa, 29 Mei 2012

Hukum Bayi Yang Lahir Dalam Keadaan Terkhitan


Hukum Bayi Yang Lahir Dalam Keadaan Terkhitan

May 28th 2012 by Abu Muawiah | Kirim via Email

Tanya:
Assalamualaikum
ustadz waktu kecil saya dulu pernah dikhitan.
dan sebelum dikhitan kemaluan saya ini sudah tampak seperti dikhitan tidak ada kulit kuncup yang menutupi ujung kemaluan saya.
nahhh ketika kelas 5 SD saya dikhitan 3 hari setelah dikhitan saya buka perbannya kemudian saya lihat hasil khitannya seprtinya tidak ada bekas kulit yang dipotong yang ada hanya bekas jahitan itu pun ikut putus waktu saya buka perban dan sampai sekarang tidak ada bedanya sebelum dikhitan ataupun sesudah dikhitan..
APAKAH KHITAN SAYA DULU ITU SAH MENURUT ISLAM
mohon pencerahannya. .. !!!!
tri yulian
ikhsanudintriyulian@gmail.com
Jawab:
Sebelumnya butuh kami tekankan bahwa yang dimaksud dengan telah terkhitan di sini adalah ujung kemaluannya tidak mempunyai kulit menutupinya. Dan hal ini adalah kejadian yang wajar dalam dunia medis, bukan dikarenakan adanya campur tangan makhluk ghaib seperti tahayul yang diyakini oleh banyak kaum muslimin di zaman ini.
Adapun jawabannya, maka sebenarnya anda sudah tidak perlu dikhitan kalau memang lahir dalam keadaan sudah terkhitan. Berikut uraiannya:
Para ulama berbeda pendapat mengenai bayi yang lahir dalam keadaan sudah terkhitan, dalam hal apakah dia tetap harus dikhitan setelah dewasa atau tidak?
1.    Disunnahkan menggesekkan pisau khitan dan semacamnya pada daerah yang biasa dikhitan. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh sebagian Al-Malikiah.
2.    Sudah tidak disyariatkan lagi untuk berkhitan, tidak diwajibkan dan tidak disunnahkan. Dan jika masih ada sedikit kulit yang menutupi ujung kemaluannya, maka itu saja yang dipotong, sebagaimana layaknya kalau ada orang yang dikhitan secara tidak sempurna.
Ini adalah mazhab Asy-Syafi’iah dan Al-Hanabilah, dan ini merupakan pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu Rusyd dari kalangan Al-Malikiah.
Dan dari kedua pendapat ini, pendapat yang paling tepat adalah pendapat kedua yang menyatakan tidak dianjurkan lagi untuk dikhitan.
Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata dalam Tuhfah Al-Wadud hal. 212, “Para ulama mengatakan: Sekedar menggesekkan benda tajam ke kemaluannya (orang yang telah dikhitan, pent.) adalah pekerjaan sia-sia dan tidak ada gunanya. Amalan seperti itu tidak dianggap sebagai bentuk taqarrub kepada Allah Ta’ala dan syariatkan disucikan darinya. Menggesekkan benda tajam pada kemaluan bukanlah tujuan khitan, akan tetapi dia hanya merupakan sarana/wasilah menuju tujuan yang sebenarnya (yaitu terpotongnya kulit yang menutupi ujung kemaluan, pent.). Karenanya jika tujuannya sudah terpenuhi (karena sejak lahir ujung kemaluannya tidak tertutup, pent.), maka tidak ada gunanya lagi mengerjakan wasilahnya.”

Senin, 28 Mei 2012

Senin, 28/05/2012 13:32 WIB 

5 Jenis Obat Manusia yang Bisa Bikin Hewan Terkapar

Linda Mayasari - detikHealth



(Foto: ThinkStock)
Jakarta, Memiliki hewan peliharaan memberikan kesenangan tersendiri bagi pemiliknya. Tetapi kadang kecerobohan Anda menaruh obat-obatan dapat menyebabkan kematian hewan peliharaan Anda yang tidak sengaja menelan obat-obatan tersebut.

Berikut 5 jenis obat yang Anda konsumsi dan bisa bersifat racun bagi hewan peliharaan Anda, seperti dilansir dari huffingtonpost, Senin (28/5/2012) antara lain:

1. Obat antidepresan

Beberapa kasus yang sering ditemui dokter hewan adalah hewan peliharaan Anda tidak sengaja menelan pil atau obat-obatan yang Anda konsumsi.

Pil dalam botol akan mengeluarkan bunyi berderak jika digulingkan dan hewan peliharaan Anda akan mengira bahwa itu mainannya.

Obat penghilang rasa sakit seperti Advil, Motrin dan Tylenol, dan obat yang diresepkan dokter untuk depresi seperti Prozac dan Effexor dapat menjadi racun bagi hewan peliharaan.

Advil, Motrin dan Aleve, dapat menyebabkan gagal ginjal dan sangat berbahaya bagi kucing. Satu pil Tylenol saja dapat berakibat fatal bagi kucing, dan jumlah yang lebih besar dapat menyebabkan gagal hati pada anjing.

Antidepresan adalah penyebab nomor 1 terjadinya kasus hewan peliharaan yang keracunan obat manusia.

Tanda-tanda hewan peliharaan telah menelan satu dari obat tersebut adalah kehilangan koordinasi, agitasi, gemetar dan kejang.

2. Inhaler asma

Jika anjing Anda menggigit inhaler asma maka akan berpotensi menyebabkan keracunan akut yang mengancam jiwa. Inhaler mengandung albuterol (beta-agonist) dan flutikason (steroid) dengan dosis yang tinggi.

Jika anjing Anda telah menggigit atau menggerogoti inhaler asma, maka anjing akan menunjukkan tanda-tanda seperti muntah, agitasi, aritmia jantung, kolaps, dan akhirnya, kematian.

3. Permen dan permen karet

Banyak permen mengandung xylitol yang merupakan pengganti gula dan sangat beracun bagi anjing.

Bahkan sejumlah kecil xylitol saja dapat mengakibatkan benturan gula darah yang berbahaya di gigi taring dan jumlah yang lebih besar dapat menyebabkan gagal hati.

Gejala keracunan xylitol meliputi muntah, kelemahan, kolaps, gemetar dan kejang. Selain permen karet, permen dan permen tanpa gula lain, xylitol banyak ditemukan dalam vitamin kunyah yang diresepkan dokter.

4. Rokok, tembakau tanpa asap, dan produk lain yang mengandung nikotin

Anjing kecil Anda bisa mati hanya dengan menelan tiga batang rokok. Mengunyah tembakau dan produk permen karet nikotin juga beracun untuk anjing dan kucing peliharaan Anda.

Tanda-tanda keracunan nikotin pada hewan peliharaan Anda adalah jantung berdetak cepat, gangguan pernapasan, gejala neurologis, kehilangan kontrol kandung kemih atau usus, tremor, kejang, kelumpuhan dan kematian.

5. Hand sanitizer

Botol kecil pembersih tangan merupakan produk yang digunakan untuk membunuh kuman dan banyak mengandung alkohol.

Jika anjing Anda tidak sengaja menelan sebotol kecil hand sanitizer, efeknya akan setara dengan suntikan minuman keras.

Hal ini bisa menyebabkan penurunan berat gula darah hewan peliharaan Anda, sehingga akan menimbulkan hilangnya koordinasi, hilangnya suhu tubuh, depresi sistem syaraf, koma, dan kematian.

Pencegahan yang perlu Anda dan keluarga lakukan adalah jangan meletakkan obat-obatan dalam jangkauan hewan peliharaan Anda.

Simpan obat dalam tas yang beresleting agar kucing atau anjing peliharaan Anda tidak dapat menemukan obat-obatan tersebut ketika sedang bermain-main.

Selasa, 15 Mei 2012

Nama-Nama Al-Fatihah dan Turunnya


Nama-Nama Al-Fatihah dan Turunnya

May 14th 2012 by Abu Muawiah | Kirim via Email
Tafsir Al-Fatihah
Makkiah dan Jumlah Ayatnya Tujuh
Turun Setelah Surah Al-Muddatstsir
Bismillahirrahmanirrahim
Nama-Nama Al-Fatihah
1. Fatihah (pembuka) al-kitab, yakni pembuka kitab dalam bentuk tulisan (mushaf). Dan dengannyalah bacaan-bacaan dalam shalat dimulai.
2. Ummu (induk) al-kitab dan ummu al-qur`an, karena makna-makna Al-Qur`an semuanya kembali kepada kandungan surah al-fatihah ini.
3. As-sab’ul matsani (tujuh ayat yang berulang) dan Al-Qur`an Al-Azhim. Telah tsabit dalam hadits yang shahih riwayat At-Tirmizi -dan dia menyatakannya shahih- dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعالَمِيْنَ: أُمُّ الْقُرْآنِ وَأُمُّ الْكِتابِ وَالسَّبْعُ الْمَثانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيْمُ
“Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (al-fatihah) adalah induk Al-Qur`an, induk al-kitab, tujuh ayat yang berulang, dan Al-Qur`an Al-Azhim.”
4. Dinamakan juga ‘al-hamdu’.
5. Dan juga ‘ash-shalah’, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam (yang beliau riwayatkan) dari Rabbnya:
قُسِمَتِ الصَّلاةُ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ. فَإذا قالَ الْعَبْدُ: اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعالَمِيْنَ, قالَ اللهُ: حَمِدَنِي عَبْدِي
“Shalat dibagi antara Aku dengan hamba-Ku. Jika hamba mengatakan, “Alhamdulillahi Rabbil alamin,” Allah berfirman, “Hamba-Ku telah memuji-Ku,” sampai akhir hadits.
Maka di sini al-fatihah dinamakan shalat karena membacanya merupakan syarat syah di dalam shalat.
6. Dinamakan juga asy-syifa (kesembuhan). Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari Abu Said secara marfu’:
فاتِحَةُ الْكِتابِ شِفاءٌ مِنْ كُلِّ سُمٍّ
“Fatihah al-kitab adalah penyembuh dari semua bentuk racun.”
7. Dinamakan juga ar-ruqyah. Berdasarkan hadits Abu Said Al-Khudri ketika dia membacanya dalam meruqyah seorang lelaki yang terkena racun (sengatan kalajengking, pent.). Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya:
وَما يُدْرِيْكَ أَنَّها رُقْيَةٌ
“Dari mana kamu tahu kalau al-fatihah itu ruqyah.”
8. Juga dinamakan asas (pokok-pokok) Al-Qur`an. Berdasarkan atsar yang diriwayatkan oleh Asy-Sya’bi dari Ibnu Abbas bahwa beliau menamakannya asas Al-Qur`an. Ibnu Abbas berkata, “Dan pokok dari al-fatihah adalah bismillahirrahmanirrahim.
9. Sufyan bin Uyainah menamakannya al-waqiyah (yang menjaga).
10. Yahya bin Abi Katsir menamakannya al-kafiah (yang mencukupi). Berdasarkan keterangan yang terdapat dalam beberapa hadits yang mursal, “Ummu Al-Qur`an adalah pengganti dari surah selainnya dan tidak ada satupun surah selainnya yang bisa menggantikannya.”
11. Dinamakan juga surah ash-shalah dan al-kunz (perbendaharaan). Keduanya disebutkan oleh Az-Zamakhsyari dalam kitabnya Al-Kasysyaf.
Turunnya
Surah Al-Fatihah turun di Makkah. Ini dikatakan oleh Ibnu Abbas, Qatadah, dan Abu Al-Aliyah. Karenanya dia adalah surah makkiah. Ada yang berpendapat: Dia adalah surah madaniah. Dan ada yang berpendapat: Al-Fatihah turun dua kali, sekali di Makkah dan sekali di Madinah.
[Bersambung insya Allah]
[Taysir Al-Ali Al-Qadir li Ikhtishar Tafsir Ibni Katsir hal. 6-7]

Kamis, 10 Mei 2012

Yang Paling Menakutkan Ketika Naik Pesawat


Yang Paling Menakutkan Ketika Naik Pesawat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Kenikmatan dan musibah adalah dua hal yang akan selalu bersama seorang hamba dalam kehidupan dunia ini. Sehingga kita dituntut untuk siap, bukan saja ketika menghadapi kenikmatan dengan syukur kepada Allah ta’ala, tetapi juga ketika menghadapi musibah dengan kesabaran. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan diantara sifat orang-orang yang beriman,
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin itu, sesungguhnya setiap keadaannya baik –dan hal itu tidak mungkin ada kecuali pada diri seorang mukmin- yaitu ketika dia mendapati sebuah kenikmatan diapun bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan apabila dia ditimpa sebuah musibah diapun bersabar, maka itu juga kebaikan baginya.”[HR. Muslim, no. 7692 dari Sahabat yang mulia Shuhaib bin Sinanradhiyallahu’anhu]
Telah banyak terjadi musibah jatuhnya pesawat yang menelan korban jiwa di negeri ini. Sebagai orang yang beriman hendaklah kita mampu mengambil pelajaran dari setiap musibah yang kita saksikan atau dengarkan. Karena sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala telah memperingatkan dalam Al-Qur’an bahwa diantara hikmah adanya musibah adalah dua perkara:
Pertama: Musibah adalah Ujian bagi Orang-orang yang Beriman
Sebagaimana firman-Nya:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ. الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”.” (Al-Baqarah: 155-156)
Dan subhanallah, ternyata di balik musibah ada sejumlah kebaikan yang sangat besar, diantaranya adalah pahala tanpa batas jika seorang yang ditimpa musibah itu bersabar dan terhapusnya dosa-dosa.
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Hanyalah orang-orang yang sabar itu pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10)
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا
“Tidaklah ada suatu musibah yang menimpa seorang muslim, hingga duri yang menusuknya, kecuali itu akan menjadi penghapus dosanya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha]
Juga sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya Allah ta’ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah timpakan kepada mereka bala’, barangsiapa ridho dengannya maka Allah pun ridho kepadanya, barangsiapa yang marah dengannya maka Allah pun marah kepadanya.” [HR. At-Tirmidzi dari Sahabat yang mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihil Jami’, no. 2110]
Dengan semua keutamaan-keutamaan ini, maka tidak heran kalau Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya maka Allah akan timpakan kepadanya musibah.” [HR. Al-Bukhari dari Sahabat yang mulia Abu Hurairahradhiyallahu’anhu]
Kedua:  Musibah adalah Azab bagi Pelaku Dosa
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan musibah apapun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (Asy-Syuraa: 30)
Juga firman-Nya:
فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami adzab disebabkan dosanya. Diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan (dalam air), dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al-’Ankabut: 40)
Bagaimana Menghindari Musibah
Bersyukurlah bagi orang yang masih diberikan kesempatan hidup setelah tertimpa musibah, karena itu berarti dia masih diberi kesempatan untuk bertaubat. Adapun bagi pelaku dosa yang belum mendapatkan musibah maka hendaklah segera bertaubat dan memohon ampun atas dosa-dosanya agar Allah jalla wa ‘ala tidak menimpakan adzab kepadanya.
Sesungguhnya Allah ta’ala telah menetapkan, bahwa taubat dan istighfar adalah diantara sebab yang menghalangi datangnya adzab. Sebagaimana firman-Nya:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu (wahai Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka senantiasa memohon ampun.” [Al-Anfal: 33]
Juga diantara sebab yang dapat menahan adzab Allah ta’ala adalah ditegakkannya amar ma’ruf nahi munkar. Apabila maksiat tersebar pada suatu kaum, lalu tidak ada diantara mereka orang-orang yang berusaha menasihati para pelaku maksiat maka bisa jadi Allah ta’ala akan menimpatkan adzab kepada kaum itu seluruhnya, baik pelaku maksiatnya maupun orang-orang baik yang mendiamkan perbuatan dosa dilakukan di depan matanya. Inilah makna firman Allah ta’ala:
وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan takutlah kepada fitnah (adzab) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” [Al-Anfal: 25]
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga pernah memberikan perumpamaan akan bahayanya membiarkan perbuatan maksiat terjadi di tengah-tengah kita,
مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا
“Perumpamaan orang yang taat kepada Allah ta’ala dan orang yang bermaksiat kepada-Nya adalah bagaikan suatu kaum yang berundi untuk naik kapal. Pada akhirnya sebagian menempati bagian atas dan sebagian lagi menempati bagian bawah. Lalu orang-orang yang menempati bagian bawah apabila membutuhkan air harus melewati bagian atas, maka mereka pun mengatakan, “Bagaimana seandainya kita lubangi saja bagian bawah kapal ini untuk mengambil air sehingga kita tidak mengganggu orang-orang yang menempati bagian atas.” Maka apabila orang-orang yang ada pada bagian atas itu membiarkan apa yang mereka inginkan nisacaya mereka akan binasa (tenggelam) semuanya, akan tetapi jika mereka mencegah perbuatan tersebut maka mereka akan selamat dan semuanya selamat.” [HR. Al-Bukhari dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu]
Oleh karena itu, sangat penting sekali kita berusaha menasihati para pelaku maksiat agar tidak ditimpakan adzab yang sangat mungkin akan mengenai kita jika kita tidak berusaha merubah kemungkaran.
Maka melalui artikel ini kami mengajak kepada para pembaca yang budiman untuk senantiasa bertaubat kepada Allah ta’ala dan meninggalkan perbuatan dosa. Dan ketahuilah, dosa yang paling wajib kita tinggalkan adalah dosa syirik, kemudian bid’ah, kemudian al-kabaair (dosa-dosa besar), kemudian ash-shogaair (dosa-dosa kecil).
Sebagaimana kami juga mengajak untuk membudayakan saling menasihati kapan dan di manapun kita berada, dan lebih penting lagi ketika kita melihat kemaksiatan terjadi di depan kita.
Maka diantara nasihat yang ingin kami sampaikan di sini adalah nasihat kepada para kru pesawat, dan khususnya kepada pramugrari, lebih khusus lagi kepada pramugari muslimah.
Takutlah kepada Allah ta’ala, sesungguhnya di pundak kalian diserahkan tanggung jawab keselamatan penerbangan, hindarilah sebab musibah terbesar, yaitu perbuatan dosa sebagaimana yang telah kami jelaskan di atas.
Yang Paling Menakutkan Ketika Naik Pesawat
Hendaklah kita menyadari, sungguh diantara hal yang sangat menakutkan ketika naik pesawat bukanlah karena cuaca yang kurang bagus atau mesin pesawat yang mungkin bermasalah, tetapi yang lebih patut dikhawatirkan adalah kemaksiatan yang dilakukan oleh para kru pesawat maupun penumpangnya. Dimana dalam keadaan mereka sangat membutuhkan pertolongan Allah ta’ala pun mereka masih berani berbuat maksiat, yang oleh orang-orang kafir di zaman Jahiliyah, tidak berani melakukannya. Sebagaimana yang Allah ta’ala kabarkan dalam Al-Qur’an,
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
“Maka apabila mereka menaiki kapal (dalam keadaan takut tenggelam) maka mereka pun berdoa kepada Allah dengan memurnikan agama hanya bagi-Nya, namun ketika Allah ta’ala menyelamatkan mereka sampai ke daratan tiba-tiba mereka kembali menyekutukan-Nya.” (Al-‘Ankabut: 65)
Dan diantara kemaksiatan yang sangat menakutkan di pesawat adalah pakaian para pramugari yang seronok, menampakkan auratnya ataupun pakaian yang sangat ketat sehingga menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya. Dua hal yang sangat menakutkan dari dosa ini adalah,
Pertama: Musibah terjadinya kecelakaan penerbangan.
Kedua: Musibah secara pribadi bagi laki-laki, yaitu terkena panah setan di hatinya.
Keduanya sama-sama bahaya, bahkan yang kedua lebih berbahaya. Kalau musibah yang pertama resiko paling besar hanyalah matinya jasad, sedangkan yang kedua adalah matinya hati. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku tinggalkan fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi laki-laki dibanding wanita.” [HR. Al-Bukhari dari Sahabat yang mulia Usamah bin Zaidradhiyallahu’anhuma]
Oleh karena itu, agama Islam yang mulia ini telah memberikan sejumlah peringatan khusus kepada kaum wanita untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, janganlah menjadi sebab terjerumusnya kaum laki-laki kepada kerusakan-kerusakan.
Apabila Anda telah menyadari hal ini, maka dengan mudah Anda akan memahami apa hikmahnya Allah ta’ala memerintahkan wanita untuk tinggal di rumahnya, jangan keluar kecuali untuk suatu keperluan yang sangat mendesak. Bersamaan dengan itu Allah tabaraka wa ta’ala mewajibkan bagi laki-laki untuk menafkahi wanita, sehingga wanita tidak sepatutnya keluar rumah meskipun dengan alasan mencari nafkah.
Allah ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأُولَى
“Dan tetap tinggallah kalian wahai para wanita di rumah-rumah kalian, dan janganlah kalian bersolek seperti bersoleknya jahiliyah dulu.” [Al-Ahzab: 33]
Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah memperingatkan bagaimana setan menjadikan wanita sebagai alat untuk menjerumuskan manusia kepada kesesatan dan kemaksiatan,
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
“Wanita itu adalah aurat, maka apabila ia keluar (dari rumahnya), setan akan menghiasinya.” [HR. At-Tirmidzi, no. 1173 dari Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, dishahihkan oleh Al-Albani]
Al-Imam Abul ‘Ala’ Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan makna hadits ini,
( فإذا خرجت استشرفها الشيطان ) أي زينها في نظر الرجال وقيل أي نظر إليها ليغويها ويغوى بها والأصل في الاستشراف رفع البصر للنظر إلى الشيء
“Bila wanita keluar, setan akan menghiasinya (untuk menggoda laki-laki), maknanya adalah setan menghiasinya di mata laki-laki. Juga dikatakan, maknanya, setan melihat wanita tersebut untuk menyesatkannya dan menyesatkan (manusia) dengannya. Dan makna asal (الاستشراف) adalah mengangkat pandangan untuk melihat sesuatu.” [Tuhfatul Ahwadzi, 4/283]
Syarat-syarat Pakaian Muslimah
Jika seorang wanita terpaksa harus keluar dari rumahnya karena suatu kebutuhan yang mendesak maka hendaklah dia berhias dengan adab-adab Islami, diantaranya adalah dengan menggunakan pakaian muslimah dengan memenuhi syarat-syaratnya sesuai syari’at, secara ringkas sebagai berikut:
1. Menutupi seluruh tubuh.  Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Al-Ahzab: 59)
2. Pakaian tersebut bukan sebuah perhiasan. Karena tujuan pakaian syar’i bagi muslimah adalah untuk menutupi perhiasannya. Allah ta’ala berfirman:
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ
”Tidak diperbolehkan bagi wanita untuk menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami-suaminya demikian pula kepada ayah-ayahnya dan kepada ayah-ayah dari suami-suami mereka.” (An-Nur: 31)
3. Tidak ketat dan tidak pula tipis. Inilah pakaian yang diperingatkan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam sabda beliau,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَ
“Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat, satu kaum yang selalu bersama cambuk bagaikan ekor-ekor sapi, dengannya mereka memukul manusia, danwanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang. Mereka berjalan dengan melenggak-lenggok menimbulkan fitnah (godaan). Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring. Mereka tidak masuk ke dalam surga. Dan mereka tidak mencium baunya. Dan sungguh bau surga itu bisa tercium dari jarak demikian dan demikian”. [HR. Muslim dari Sahabat yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
4. Tidak mengenakan harum-haruman. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِىَ زَانِيَةٌ وَكُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ
“Siapa saja wanita yang memakai wewangian dengan tujuan agar kaum pria mencium bau harumnya, maka dia adalah pezina.” [HR. An-Nasai, no. 5126 dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, dihasankan oleh Al-Albani]
5. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir atau fasik. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka.” [HR. Abu Daud, no. 4033 dari Sahabat yang mulia Abdullah bin Umarradhiyallahu’anhuma, dihasankan oleh Al-Albani]
6. Tidak menyerupai Pakaian Laki-laki. Sahabat yang mulia Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,
لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, dan wanita yang menyerupai laki-laki.” [HR. Al-Bukhari no. 5885]
7. Bukan pakaian ketenaran. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ
“Barangsiapa mengenakan pakaian ketenaran di dunia, maka Allah akan memakaikan kepadanya pakaian kehinaan pada hari kiamat.” [HR. Ibnu Majah, no. 3606 dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, dihasankan oleh Al-Albani]
Semoga Allah ta’ala memperbaiki kaum muslimin seluruhnya.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Jangan Takut Anakku

Jangan Takut Anakku


Oleh : Al Ustadz Zamakhsari
بسم الله الرحمن الرحيم
Sudah menjadi kewajiban kita sebagai orang tua untuk selalu membimbing, mengarahkan bahkan memahamkan anak kita akan agama Allah subhanahu wa ta’ala, sebagai bekal dalam mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, orang tua harus mengenalkan anak akan Sang Pencipta, yang akan memberikan pertolongan terhadap kaum muslimin yang taat, dalam mengarungi dan menghadapi kehidupan yang semakin berat di dunia ini. Dengan keyakinan itulah, segala permasalahan akan dapat dihadapi bahkan diselesaikan atas pertolongan Allah.
Anak dengan segala keunikan yang ada pada dirinnya, tidak terlepas dari permasalahan baik pada dirinya, keluarganya, lingkungannya dan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Begitu pula berat ringannya persoalan yang dihadapi, antara anak satu dan yang lainnya, maka sering kita jumpai anak-anak yang penakut terhadap sesuatu yang seharusnya tidak perlu untuk ditakuti. Semua itu membuat kita sebagai orang tua berpikir, apa yang harus diperbuat oleh kita terhadap anak-anak kita dalam menghadapi masalah tersebut. Dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memberikan nasehat kepada putra pamannya Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu yang mana dalam hadits tersebut menjelaskan tentang keyakinan akan adanya pertolongan Allah terhadap hambanya yang beriman dan disitu pulalah rasa optimismenya terhadap dirinya.
(( يا غلام إني أعلمك كلمات : احفظ الله يحفظك احفظ الله تجده تجاهك إذا سألت فاسأل الله, و إذا استعنت فاستعن بالله. و اعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لن ينفعوك إلا بشيئ قد كتبه الله لك. و إن اجتمعوا على أن يضروك بشيء لن يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك, رفعت الأقلام و جفت الصحف )) رواه الترمذي و قال حديث حسن صحيح  و في رواية غير الترمذي (( افحظ الله تجده أمامك تعرف إلى الله في الرخاء يعرفك في الشدة و اعلم أن ما أخطأك لم يكن ليصيبك و ما أصابك لم يكن ليخطئك و اعلم أن النصر مع الصبر و أن الفرج مع الكرب و أن مع العسر يسرا.
“Wahai anak(ku), sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau akan dapati dia ada dihadapanmu. Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah, dan apabila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk memberi kemanfaatan kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan mudharat kepadamu, mereka tidak akan mampu menimpakannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan kepadamu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran-lembaran. (HR. At Tirmidzi, dikatakan haditsnya hasan shahih)
Dan dalam riwayat selain At Tirmidzi :
“Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Dia di hadapnmu, kenalilah Allah dalam keadaan lapang, niscaya dia akan mengenalimu dalam keadaan susah. Ketahuilah, sesungguhnya apa yang Allah tetapkan luput darimu, tidak akan menimpamu, dan apa yang ditetapkan menimpamu, tidak akan luput darimu. Ketahuilah, pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesusahan, dan bersama kesulitan ada kemudahan.”
Inilah kalimat yang agung dan mulia dari lisan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Seakan-akan beliau mengatakan, jagalah batasan-batasan Syariat Allah dengan malaksanakan perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, yaitu dengan mempelajari agamaNya hingga engkau dapat menunaikan segala ibadah dengan benar. Maka jagalah semua itu, niscaya Allah akan menjaga dirimu, agamamu, keluarga dan hartamu. Karena Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sementara bentuk kebaikan yang paling penting adalah penjagaan terhadap agamamu, dan penyelamatan dirimu dan keluargamu dari kesesatan. Sebaliknya orang yang menelantarkan agamanya maka Allahpun akan menelantarkannya serta dia tidak berhak untuk mendapatkan penjagaan dari Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana dalam firmannya :
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik. (Al Hasyr : 19)
Pesan Rasulullah ini juga memberikan nasehat bagi kita semua, hendaklah dalam memohon sesuatu, maka hanya kepada Allah sematalah tempat memohon, bukan kepada makhluk. Karena Allahlah dzat yang memiliki kerajaan langit dan bumi, namun tidak terlarang bagi kita untuk meminta/mencari pertolongan kepada makhluk, dengan syarat makhluk tersebut mampu untuk melakukannya, makhluk tersebut masih hidup dan makhluk tersebut ada dihadapannya baik secara nyata maupun secara hokum, dengan ini semua harus disertai dengan keyakinan bahwa makhluk disini adalah hanya sebatas sebab saja dan Allahlah yang menciptakan sebab, hingga hanya kepadaNyalah kita bersandar. Demikian pula segala kebaikan yang diberikan dan bahaya yang ditimpakan oleh makhluk semua itu telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala :
“Dan Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa (Asy Syura : 40)
Oleh karena itu, seorang hamba harus menggantungkan harapannya kepada Allah dan tidak perpaling sedikitpun kepada makhluk karena makhluk itu tidak memiliki kekuasaan sedikitpun untuk memberi manfaat atau mudaharat. Nasehat ini berisi anjuran untuk menunaikan hak Allah disaat lapang, sehat dan berkecukupan, niscaya Allah akan mengenalinya ketika berada dalam kesusahan hingga Dia ringankan penderitaannya, menolong dan menghilangkan kesusahannya itu. Juga pengajaran pada sang anak bahwa apapun yang telah ditetapkan tak akan luput dan apapun yang tidak ditetapkan tak akan bisa diraih, karena Allah telah menetapkan semua itu. Di dalam nasehat ini pula terdapat anjuran agar bersabar untuk memperoleh pertolongan . kesabaran ini mencakup sabar untuk taat kepada Allah, sabar dalam menjauhi maksiat kepada Allah dan sabar terhadap ketetapan Allah yang menyakitkan (secara dhahirnya). Inilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, karena pertolongan mengiringi kesabaran. Inilah kabar gembira bahwa kelapangan mengiringi  kesusahan. Sebagaiman firman Allah subhanahu wa ta’ala :
“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Asy Syarh : 4)
Di hadits yang lain yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga mengatakan :
المؤمن القوي خير و أحب إلى الله من المؤمن الضعيف, و في كلٍّ خيرٌ, احرص على ما ينفعك و استعن بالله و لا تعجز , و إن أصابك شيء فلا تقل : لو أني فعلت كان كذا و كذا , و لكن قل : قدر الله و ما شاء فعل, فإن لو تفتح عمل الشيطان
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing dari keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah merasa lemah. Apabila ditimpa sesuatu maka jangan engkau katakan : seandainya aku dulu melakukannya maka akan  begini dan begtu. Namun katakanlah : ini adalah taqdir Allah dan apa yang Allah kehendaki pastilah Allah lakukan, karena ucapan “seandainya” itu membuka amalan syaithon.” (HR. Muslim 2664)
Yang dimaksud jiwa yang kuat adalah jiwa yang kokoh (imannya-pen) dan bersemangat terhadap  perkara-perkara akhirat, sehingga orang yang seperti ini menjadi orang yang pemberani terhadap  musuh, paling teguh dalam berdakwah dan bersabar dalam menempuh semua itu, serta tabah dalam menghadapi kesusahan karena mengharap Allah semata. Akan tetapi baik orang yang kuat atau yang lemah semuanya memiliki kebaikan karena sama-sama beriman. Dianjurkan pula oleh Rasulullah untuk bersemngat dalam berbuat taat kepada Allah dan memohon pertolonganNya untuk mendapatkan semua itu. (syarh shahih muslim)
Inilah yang semestinya tergambar pada seorang anak. Tak ada salahnya suatu ketika orang tua mengisahkan orang-orang yang diberi kemuliaan oleh Allah, yang sarat dengan optimisme dan keyakinan pada Rabbnya. Karena kisah itu akan lebih bisa membekas pada diri anak yang tabiatnya suka dengan cerita-cerita.