Halaman

Minggu, 07 September 2014

Ipar adalah Kematian

Ipar adalah Kematian

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Ipar adalah Maut
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
إيَّاكُمْ والدخول على النساءِ فقالَ رجلٌ منَ الأنصار يا رسولَ الله أفرأيتَ الْحَمُو قالَ الْحَمُو الموت
“Janganlah kalian memasuki tempat para wanita. Maka berkata seorang lelaki dari kaum Anshar: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan ipar? Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkata: Ipar adalah kematian.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu'anhu]
Makna “Ipar adalah Kematian”
Ath-Thobari rahimahullah berkata,
المعنى أن خلوة الرجل بامرأة أخيه أو بن أخيه تنزل منزلة الموت والعرب تصف الشيء المكروه بالموت
“Maknanya adalah seorang laki-laki yang berdua-duaan dengan istri saudaranya atau istri ponakannya sama seperti kematian (yang tidak disukai), dan kebiasaan orang Arab mensifatkan sesuatu yang tidak disukai dengan kematian.” [Fathul Baari, 9/332]
An-Nawawi rahimahullah berkata,
وإنما المراد أن الخلوة بقريب الزوج أكثر من الخلوة بغيره والشر يتوقع منه أكثر من غيره والفتنة به أمكن لتمكنه من الوصول إلى المرأة والخلوة بها من غير نكير عليه بخلاف الأجنبي
“Maknanya adalah berdua-duaan dengan kerabat suami lebih berbahaya dibanding dengan selainnya, demikian pula kejelekan dan fitnah (godaan yang menjerumuskan kepada zina) dengan ipar lebih besar, karena (umumnya) sangat memungkinkan untuk berhubungan dan berdua-duaan dengannya tanpa mendapat teguran, berbeda dengan wanita lain (yang umumnya mendapat teguran orang).” [Fathul Baari, 9/332]
Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
قيل المراد أن الخلوة بالحمو قد تؤدي إلى هلاك الدين أن وقعت المعصية أو إلى الموت أن وقعت المعصية ووجب الرجم أو إلى هلاك المرأة بفراق زوجها إذا حملته الغيرة على تطليقها أشار إلى ذلك كله القرطبي
“Dikatakan bahwa berdua-duaan bersama ipar (adalah maut) maksudnya dapat mengantarkan kepada kebinasaan agama seseorang apabila terjadi kemaksiatan, atau mengantarkan kepada kematian apabila terjadi kemaksiatan (zina) dan wajib untuk dirajam (dilempari batu sampai mati dengan perintah penguasa), atau mengantarkan kepada kehancuran wanita tersebut karena bercerai dengan suaminya apabila suaminya cemburu sehingga menceraikan istrinya itu, semua makna ini diisyaratkan oleh Al-Qurthubi.” [Fathul Baari, 9/332]
Al-Qusyairi rahimahullah berkata,
كأنه يقال : من قصد ذلك فليكن الموت في دخوله عوضا من دخول الحمو الذي قصد دخوله ، ويجوز أن يكون شبه الحمو بالموت ، باعتبار كراهته لدخوله ، وشبه ذلك بكراهة دخول الموت
“Seakan dikatakan: Barangsiapa yang sengaja melakukan hal itu maka lebih baik mati daripada berdua-duaan dengan ipar. Bisa juga maknanya adalah diserupakannya ipar dengan kematian, dari sisi tidak disukainya berdua-duaan dengannya, maka sebagaimana kematian itu tidak disukai demikian pula berdua-duaan dengan ipar tidak dibolehkan.” [Ihkaamul Ahkaam, hal. 398]
Beberapa Pelajaran:
1) Al-Hamwu ‘ipar’ yang dimaksud di sini adalah kerabat suami yang tidak termasuk mahram bagi istri, tidak terbatas saudara (adik atau kakak laki-laki suami) tapi seluruh kerabatnya yang bukan mahram seperti pamannya, sepupunya dan lain-lain. Adapun mahram istri dari kerabat suami adalah seperti bapak dan anak suami (Lihat Fathul Baari, 9/331)
2) Dalam hadits disebutkan larangan memasuki ruangan atau tempat wanita, maka apabila disertai khalwat (berdua-duaan) tentu lebih terlarang lagi (Lihat Fathul Baari, 9/331)
3) Peringatan keras untuk menjauhi perbuatan maksiat terutama dosa-dosa besar seperti zina karena akibatnya yang sangat berbahaya
4) Peringatan keras dari memasuki ruangan atau tempat para wanita, terlebih lagi berdua-duaan antara laki-laki dan wanita non mahram
5) Dosa zina orang yang sudah pernah menikah lebih besar dari yang belum pernah menikah, makanya hukuman untuk pelakunya di dunia dibedakan
6) Perhatian Islam yang sangat besar untuk menjaga keselamatan masyarakat dari kerusakan-kerusakan moral
7) Haramnya melakukan hal-hal yang bisa mengantarkan kepada zina maupun maksiat yang lainnya
8) Demi untuk menjaga dan menutup pintu zina, dahulu Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu melarang seorang bujangan tinggal bersama orang-orang yang sudah menikah, demikian sebaliknya orang yang sudah menikah tidak boleh tinggal bersama para bujangan, dan inilah yang diamalkan kaum Muhajirin ketika datang ke Madinah di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (Lihat Taysirul ‘Allam, 2/72)
9) Mahram bagi seorang wanita adalah yang diharamkan untuk dinikahi selama-lamanya, inilah mahram yang boleh menemani dalam safar, baik safar mubah maupun ibadah seperti untuk haji dan umroh. Adapun ipar hanyalah diharamkan untuk dinikahi sementara waktu saja, jadi ipar bukan mahram yang dibolehkan menemani safar seorang wanita, apalagi yang tidak punya hubungan mahram sama sekali.
10) Keindahan dan kemuliaan syari’at yang berasal dari Rabbul ‘aalaamiin yang Maha Mengetahui lagi Maha Hikmah.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

FansPage Website: Sofyan Chalid bin Idham Ruray [www.fb.com/sofyanruray.info]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar