Halaman

Selasa, 17 Februari 2015

Renungan Berharga dari Ayat yang Mulia

Renungan Berharga dari Ayat yang Mulia

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Yang Berjiwa Akan Merasakan Mati
Allah ta’ala berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [Ali Imron: 185]
Asy-Syaikhul Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,
هذه الآية الكريمة فيها التزهيد في الدنيا بفنائها وعدم بقائها، وأنها متاع الغرور، تفتن بزخرفها، وتخدع بغرورها، وتغر بمحاسنها، ثم هي منتقلة، ومنتقل عنها إلى دار القرار، التي توفى فيها النفوس ما عملت في هذه الدار، من خير وشر.
“Dalam ayat yang mulia ini ada motivasi untuk zuhud terhadap dunia karena dunia ini fana’ dan tidak kekal, dan peringatan bahwa dunia adalah kesenangan yang menipu, keindahannya menggoda, pesonanya menipu dan kecantikannya memperdaya, kemudian ia akan berganti, dan makhluk akan berpindah darinya ke negeri yang kekal, yang jiwa-jiwa akan diwafatkan sesuai dengan apa yang mereka amalkan di dunia, apakah kebaikan atau keburukan.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 159]
Beberapa Pelajaran:
1) Anjuran mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk menghadapinya demi meraih husnul khatimah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ العَبْدَ لَيَعْمَلُ، فِيمَا يَرَى النَّاسُ، عَمَلَ أَهْلِ الجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ، عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا
“Sungguh seorang hamba benar-benar beramal dalam pandangan mata manusia sebagai amalan penghuni surga, dan sungguh ia termasuk penghuni neraka. Dan seorang hamba beramal dalam pandangan mata manusia sebagai amalan penghuni neraka, sedang ia termasuk penghuni surga, dan hanyalah amalan itu tergantung pada penutupnya.” [HR. Al-Bukhari dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu’anhu]

Manfaat Mengingat Mati dan Bahaya Melupakannya
Ad-Daqoq rahimahullah berkata,
مَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ الْمَوْتِ أُكْرِمَ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ : تَعْجِيلِ التَّوْبَةِ وَقَنَاعَةِ الْقَلْبِ وَنَشَاطِ الْعِبَادَةِ ، وَمَنْ نَسِيَهُ عُوقِبَ بِثَلَاثٍ : تَسْوِيفِ التَّوْبَةِ وَتَرْكِ الرِّضَا بِالْكَفَافِ وَالتَّكَاسُلِ فِي الْعِبَادَةِ
Barangsiapa banyak mengingat mati maka ia akan dimuliakan dengan tiga perkara:
(1) Segera bertaubat,
(2) Hati yang merasa cukup,
(3) Semangat beribadah.
Dan barangsiapa melupakannya maka ia akan dihukum dengan tiga perkara:
(1) Menunda-nunda taubat,
(2) Tidak merasa cukup, 
(3) Malas Beribadah.
[At-Tadzkiroh lil Qurthubi, hal. 8]
2) Seorang mukmin beramal shalih untuk masa depannya di akhirat, bukan untuk dunia yang fana’.
3) Kesuksesan yang hakiki adalah keselamatan dari azab Allah dan dimasukkan ke dalam surga, maka orang yang cerdas tidak tertipu dengan kesuksesan di dunia dan selalu mengejar kesuksesan di akhirat yang kekal.
Seorang Sahabat Anshar bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» ، قَالَ: فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ؟ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا، وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ»
“Wahai Rasulullah, seorang mukmin manakah yang paling mulia? Beliau bersabda: Yang paling baik akhlaknya. Sahabat tersebut bertanya lagi: Seorang mukmin manakah yang paling cerdas? Beliau bersabda: Yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk menghadapi kehidupan setelahnya, mereka itulah orang-orang yang cerdas.” [HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Ibnu Umarradhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah: 1384]
4) Peringatan dari bahaya godaan dunia dengan segenap kenikmatan dan kemewahannya yang memperdaya.
5) Kewajiban mentauhidkan Allah ta’ala dan meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, karena inilah jaminan kesuksesan dan keselamatan dari azab Allah ta’ala, oleh karena itu penting sekali bagi setiap hamba untuk menuntut ilmu agama agar dapat mengamalkan kewajiban terbesar ini dengan baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar