Halaman

Minggu, 03 Februari 2013

MENULIS BASMALAH DENGAN HURUF LATIN DI AWAL SURAT ATAU SMS

MENULIS BASMALAH DENGAN HURUF LATIN DI AWAL SURAT ATAU SMS

Permasalahan ini kembalinya kepada perkara: Apakah yang diinginkan
dengannya adalah sekedar tasmiyyah yakni sebagai dzikr dan do’a
sebagaimana perkara ini disyari’atkan pada awal-awal perkara-perkara
yang lain? Ataukah basmalah yang ditulis oleh Rosululloh merupakan
ayat dari Al-Qur’an sebagaimana Alloh menurunkannya sebagai pembuka
setiap surat dalam kitab-Nya yang mulia?.


Karena pelarangan ulama dalam mengubah tulisan arab kepada ejaan latin
adalah pada Al-Qur’an, berdasarkan firman Alloh Ta’ala:

أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ
يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا
عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal
segolongan dari mereka mendengar firman Alloh, lalu mereka mengubahnya
setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?”. (QS Al-Baqoroh
75)

Adapun jika basmalah yang ditulis di awal surat adalah dalam posisi
sebagai dzikr, bukan sebagai salah satu ayat dari Al-Qur’an, maka
tidak mengapa menulisnya dengan ejaan latin sebagaimana kita menulis
Alhamdulillah atau Subhanalloh, padahal keduanya ada di Al-Qur’an.

Beberapa alasan yang bisa dijadikan sandaran untuk kemungkinan pertama
(sebagai dzikr):

1. Digantinya lafazh basmalah pada Perjanjian Hudaibiyyah, yang
menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan penulisan bukanlah ayat Al-
Qur’an. Karena jika yang dimaksud adalah ayat Al-Qur’an maka tidak
diganti baik ke bahasa latin maupun ke kalimat lain dalam bahasa arab.

Al-Miswar bin Makhromah Rodhiyallohu ‘Anhu menyebutkan -ketika terjadi
Perjanjian Hudaibiyah-: “

Maka datanglah Suhail bin ‘Amr berkata: “Ayo tulislah antara kami dan
kalian sebuah kitab (perjanjian)”. Maka Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa
Sallam memanggil juru tulis lalu Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam
mengatakan: بسم الله الرحمنِ الرحيم

Suhail berkata: “Adapun Ar-Rohmaan, maka demi Alloh aku tidak tahu apa
ia. Namun tulislah Bismika Allohumma sebagaimana engkau dahulu
menulis”.

Kaum muslimin mengatakan: Kami tidak akan menulisnya kecuali: بسم الله
الرحمنِ الرحيم

Maka Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Tulislah: Bismika
Allohumma”. Kemudian beliau berkata: “Ini adalah apa yang diputuskan
Muhammad Rosululloh”. Suhail berkata: “Demi Alloh kalau kami tahu
bahwa kamu adalah rosul (utusan) Alloh, maka kami tidak akan
menghalangi kalian dari baitulloh dan kami tidak akan memerangimu,
akan tetapi tulislah: Muhammad bin ‘Abdillah”.

Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Demi Alloh aku benar-
benar rosululloh walaupun kalian mendustakanku. Tulislah: Muhammad bin
‘Abdillah”.

(Kemudian setelah menyebutkan kisah yang panjang setelah peristiwa
perjanjian itu) Al-Mishwar mengatakan: Kemudian Alloh Ta’ala
menurunkan:

وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ
بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ وَكَانَ
اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا * هُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا
وَصَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْهَدْيَ مَعْكُوفًا أَنْ
يَبْلُغَ مَحِلَّهُ وَلَوْلَا رِجَالٌ مُؤْمِنُونَ وَنِسَاءٌ مُؤْمِنَاتٌ
لَمْ تَعْلَمُوهُمْ أَنْ تَطَئُوهُمْ فَتُصِيبَكُمْ مِنْهُمْ مَعَرَّةٌ
بِغَيْرِ عِلْمٍ لِيُدْخِلَ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ لَوْ
تَزَيَّلُوا لَعَذَّبْنَا الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
* إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ
حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ

“Dia-lah yang menahan tangan mereka dari membinasakan kalian dan
menahan tangan kalian dari membinasakan mereka di tengah kota Mekah
sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan Allah melihat apa yang
kamu kerjakan.

Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kalian dari memasuki
Masjidil Haram dan menghalangi hewan korban sampai ke tempat
(penyembelihan)nya. Kalaulah bukan karena laki-laki yang mukmin dan
perempuan-perempuan yang mukmin yang tiada kalian ketahui, tentulah
kalian akan membunuh mereka yang menyebabkan kalian ditimpa kesusahan
tanpa kalian sadari.

Karena Allah akan memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam
rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah Kami akan
mengazab orang-orang yang kafir di antara mereka dengan azab yang
pedih. Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka
kesombongan (yaitu) kesombongan Jahiliyah”. (QS Al-Fath 24-26)

Kesombongan mereka adalah mereka tidak mengakui bahwa beliau adalah
Nabiyulloh, dan tidak mengakui بسم الله الرحمن الرحيم, serta
menghalangi mereka dari baitulloh”. (HR Bukhory).

Dalam riwayat lain:

Sesungguhnya Quraisy mengajak Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam
berunding, pada mereka terdapat Suhail bin ‘Amr. Maka Nabi Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam berkata kepada ‘Ali: “Tulislah: بسم الله الرحمنِ
الرحيم”.

Suhail berkata: “Adapun bismillah, maka kami tidak tahu apa itu
Bismillahirrohmaanirrohim. Akan tetapi tulislah apa yang kami ketahui:
Bismika Allohumma”.

Beliau berkata: “Tulis: Dari Muhammad Rosululloh”. Mereka berkata:
“Kalau kami tahu engkau dalah rosul Alloh niscaya kami akan
mengikutimu. Akan tetapi tulislah namamu dan nama bapakmu”. Maka Nabi
Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Tulis: Dari Muhammad bin
‘Abdillah”. (HR Muslim dari Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘Anhu)

2. Basmalah yang merupakan ayat Al-Qur’an adalah pembatas antar
surat,  sebagaimana hadits Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu ‘anhuma,
bahwasanya beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَعْرِفُ فَصْلَ
السُّورَةِ حَتَّى تَنَزَّلَ عَلَيْهِ: بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ.

“Dahulu Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- tidak mengetahui pembatas
pada tiap-tiap surat hingga diturunkan kepada beliau: بسم الله الرحمن
الرحيم.”. (HR Abu Daud dengan sanad yang shohih)

Maka konsekwensinya, setelah basmalah mestinya disebutkan surat Al-
Qur’an yang baru, sementara basmalah yang disunnahkan ditulis di awal
penulisan perkara yang lain, tidaklah demikian.

3. Dari penjelasan para ulama tentang basmalah di awal-awal kitab,
disebutkan bahwa makna yang disiratkan di dalamnya adalah: “Dengan
nama Alloh aku membuat tulisan atau karangan”, sementara pada Al-
Qur’an makna-makna tersirat semacam ini tidak berlaku, karena Al-
Qur’an adalah perkataan Alloh bukan makhluk.[4]

Karena itu tidak mengapa basmalah ditulis huruf latin di awal
penulisan jika tidak memungkinkan dengan bahasa arab karena penulis
menginginkannya sebagai sebuah dzikr. Adapun Al-Qur’an maka tidak
boleh ditulis dengan huruf latin dalam keadaan apapun, dan
meninggalkannya adalah sebuah keharusan, karena hukum menulis basmalah
di awal penulisan adalah mustahab, sementara mengubah lafazh Al-Qur’an
hukumnya haram. Gambarannya seperti orang yang merampok untuk
bersedekah, namun masalah pengubahan lafazh jauh lebih parah karena
terkait dengan sifat Alloh. wallohu a’lam.

Karena itu Syaikh kami Muhammad bin Hizam Hafizhohulloh[5] menyarankan
kepada orang yang ingin menulis basmalah di awal surat dengan huruf
latin untuk meniatkannya sebagai dzikr, adapun jika dia menulis
basmalah tersebut dengan niat itu adalah Al-Qur’an maka tidak boleh
dengan huruf latin. Wabillahit Taufiiq

Sumber: http://ahlussunnah.web.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar