Halaman

Minggu, 13 Juli 2014

Sebuah Kisah Penggugah Jiwa Pemimpin Sejati

Posted: 10 Jul 2014 07:59 AM PDT
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Mukmin yang Kuat dalam Menegakkan Agama
Dikisahkan oleh para ahli sejarah Islam tentang salah satu potongan sejarah seorang penguasa muslim yang shalih lagi kuat dan tangguh serta sangat mencintai kaum muslimin, Umar bin Abdul Aziz rahimahullah:
أرسل عمر بن عبد العزيز إلى صاحب الروم رسولاً، فأتاه وخرج من عنده يدور، فمر بموضع فسمع فيه رجلاً يقرأ القرآن ويطحن، فأتاه فسلم عليه فلم يرد عليه السلام ـ مرتين أو ثلاث ـ ثم سلم عليه فقال له: وأنىّ بالسلام في هذا البلد، فاعلمه أنه رسول عمر إلى صاحب الروم، قال له: ما شأنك؟ فقال: وإني أسرت في موضع كذا وكذا، فأتى بي إلى صاحب الروم، فعرض علي النصرانية فأبيت، وقال لي: إن لم تفعل سملت عينيك، فاخترت ديني على بصري، فسمل عيني وصيرني إلى هذا الموضع، يرسل إلي كل يوم بحنطة أطحنها وبخبزة آكلها ، فسار الرسول إلى عمر بن عبد العزيز فأخبره، خبر الرجل، قال: فما فرغت من الخبر حتى رأيت دموع عمر قد بلّت ما بين يديه ثم أمر، فكتب إلى صاحب الروم: أما بعد: فقد بلغني خبر فلان بن فلان فوصف له صفته، وأنا أقسم بالله لئن لم ترسله إلي لأبعثنَّ إليك من الجنود جنوداً يكون أولها عندك وأخرها عندي. ولما رجع إليه الرسول قال: ما أسرع ما رجعت! فدفع إليه كتاب عمر بن عبد العزيز، فلما قرأه قال: ما كنا لنحمل الرجل الصالح على هذا، بل نبعث إليه به قال: فأقمت انتظر متى يخرج به، فأتيته ذات يومٍ فإذا هو قاعد قد نزل عن سريره أعرف في وجهه الكآبة، فقال: تدري لم فعلت هذا؟ فقلت: لا ـ وقد أنكرت ما رأيت ـ فقال: إنه قد أتاني من بعض أطرافي أن الرجل الصالح قد مات، ولذلك فعلت ما فعلت، ثم قال: إن الرجل الصالح إذا كان بين القوم السوء لم يترك بينهم إلا قليلاً حتى يخرج من بين أظهرهم. فقلت له: أتأذن لي أن أنصرف ـ وأيست من بعثه الرجل معي فقال: ما كنا لنجيبه إلى ما أمر في حياته ثم نرجع فيه بعد مماته، فأرسل معه الرجل
Umar bin Abdul Aziz pernah mengirim seorang untusan kepada Penguasa Romawi, maka setelah menemuinya utusan tersebut keluar dari ruangannya seraya berkeliling, tatkala ia melewati salah satu ruangan, ia mendengar seseorang membaca Al-Qur’an sambil membuat adonan, maka ia pun mendatanginya lalu mengucapkan salam atasnya namun orang tersebut tidak membalas salamnya sampai dua atau tiga kali.
Orang itu pun berkata: Bagaimana mungkin ada ucapan salam di negeri (kafir) ini?
Sang utusan pun memberitahukan bahwa ia adalah utusan Khalifah Umar kepada Penguasa Romawi. Dan ia berkata: Apa yang terjadi padamu?
Orang itu menjawab: Aku tertawan di tempat ini dan itu (ketika berjihad), maka aku dibawa untuk menghadap Penguasa Romawi, lalu aku dipaksa masuk Kristen, aku pun menolak. Dia lalu berkata: Kalau kamu tidak mau maka aku akan membutakan dua matamu.
Aku pun memilih agamaku dibanding mataku, maka ia membutakan mataku dan menahanku di tempat ini, dan dikirimkan kepadaku setiap hari sebiji gandum untuk kuadon dan sepotong roti untuk kumakan.
Maka sang utusan segera pulang menemui Umar bin Abdul Aziz, lalu ia mengabarkan berita tawanan muslim tersebut. Utusan berkata: Aku belum selesai bercerita tentang kisahnya, namun aku melihat air mata Umar bercucuran deras hingga membasahi di antara kedua tangannya, kemudian beliau memerintahkan untuk segera menulis surat kepada Penguasa Romawi:
Amma ba’du, telah sampai kepadaku berita tentang fulan bin fulan –lalu beliau menyebutkan ciri-ciri muslim yang tertawan tersebut-. Aku bersumpah demi Allah, apabila engkau tidak segera mengirimnya kepadaku maka sungguh aku akan mengirim pasukan-pasukan untuk menggempurmu yang barisan awalnya ada di depanmu dan akhirnya ada di tempatku ini.
Dan ketika utusan itu kembali kepada Penguasa Romawi, dia bercerita: Aku kembali dengan sangat cepat, aku pun langsung menyerahkan kepadanya surat Umar bin Abdul Aziz, maka tatkala ia membacanya ia berkata: Kami tidak akan melawan orang shalih ini, kami akan mengirim tawanan tersebut kepadanya.
Aku pun tinggal (menunggunya melakukan persiapan) dan mengawasi kapan Raja Romawi ini akan membawa tawanan tersebut, maka pada suatu waktu aku datang dan ia sedang duduk di bawah singgasananya, aku pun tahu dari wajahnya bahwa ia sedang berduka. Ia berkata: Apakah kamu tahu mengapa aku duduk di bawah singgasana? Aku berkata: Tidak –aku seakan tidak tahu kesedihannya-.
Dia lalu berkata: Sesungguhnya telah datang berita dari sebagian orang-orangku bahwa orang shalih (Umar bin Abdul Aziz) telah meninggal dunia, maka aku pun melakukan ini.
Kemudian ia berkata: Sesungguhnya orang shalih apabila berada di antara kaum yang jelek, maka ia tidak akan tinggal lama bersama mereka untuk kemudian meninggalkan mereka.
Maka aku berkata kepadanya: Apakah engkau mengizinkan aku untuk pulang dan membawa tawanan itu bersamaku?
Maka ia berkata: Aku tidaklah tunduk kepada perintahnya ketika ia masih hidup kemudian mengingkarinya setelah ia mati.
Akhirnya, ia mengirim tawanan muslim itu bersamaku.
[Sirah Umar bin Abdul Aziz, karya Ibnu Abdil Hakam, hal. 168]
Kisah yang semisal pernah terjadi pada Khalifah Al-Mu’tashim Billah bin Harun Ar-Rasyidghafarallaahu lahu, dan benar-benar terjadi peperangan di masanya, dan beliau berhasil menaklukan satu kota Nasrani yang bernama Amoria, dikarenakan seorang wanita muslimah yang ditawan di kota tersebut.Allaahu Akbar.
Pelajaran dari Kisah:
1) Kekuatan iman kaum muslimin generasi Salaf dan berpegang teguhnya mereka dengan agama Allah, itulah sebab pertolongan-Nya kepada mereka, sehingga  mereka mampu menundukkan berbagai negeri dan disegani oleh musuh
2) Memilih akhirat yang kekal daripada dunia dan berani menanggung penderitaan di jalan Allah demi kebahagiaan di akhirat kelak, lihatlah tentara muslim yang tertawan lebih memilih matanya menjadi buta daripada harus melakukan kekafiran
3) Teladan dari seorang pemimpin sejati, harus kuat dan memiliki ketegasan agar disegani dan ditakuti oleh musuh
4) Teladan dari seorang pemimpin sejati, betapa beliau sangat peduli terhadap seorang muslim, betapa beliau sangat mencintai muslim tersebut
5) Gambaran persaudaraan kaum muslimin yang kokoh, bagaikan sebuah bangunan, atau bagaikan satu tubuh, tanpa terhalangi status sebagai penguasa dan rakyat, atasan dan bawahan, lihatlah bagaimana kesedihan seorang penguasa ketika saudara muslimnya menderita
6) Persaudaraan Islam yang hakiki dibuktikan dengan tindakan nyata, yaitu pertolongan dan minimalnya mendoakan apabila tidak mampu menolong
7) Satu jiwa seorang muslim begitu sangat berharganya, lihatlah satu pasukan besar akan disiapkan oleh seorang pemimpin yang tangguh demi untuk menyelamatkan dan memuliakan jiwa tersebut, bagaimana dengan ribuan bahkan jutaan jiwa yang terancam wahai kaum muslimin…?! Bagaimana dengan anak-anak dan wanita-wanita kita yang saat ini dibantai di Gaza, Suriah dan Myanmar…?!
8) Islam adalah agama yang mulia, kaum muslimin adalah umat yang mulia, tidak boleh dihinakan, seorang pemimpin yang mulia tidak akan membiarkan agamanya dihinakan
9) Keshalihan pemimpin dan rakyat harus berpadu untuk meraih kemakmuran dan kejayaan negeri
10) Hendaklah senantiasa tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, inilah pondasi bangunan masyarakat Islam.
11) Sejarah Kristenisasi adalah sejarah yang panjang, hitam, kelam dan penuh kekejaman
12) Orang-orang kafir pun berjuang untuk menegakkan agama mereka, padahal mereka di atas kekafiran dan kesesatan, sudah sepatutnya kaum muslimin lebih bersemangat dibanding mereka.
Inilah diantara pelajaran yang bisa kami sarikan, semoga bermanfaat insya Allah ta’ala.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Posted: 10 Jul 2014 06:46 AM PDT

بسم الله الرحمن الرحيم

Dunia yang Hina dan Melalaikan
Sejatinya kaum muslimin adalah umat yang kuat dan mulia, berwibawa dan disegani oleh orang-orang kafir seperti Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu’anhum serta beberapa generasi umat Islam setelahnya yang tetap konsisten dalam berpegang teguh dengan Sunnah.
Bahkan sebulan sebelum Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan pasukannya sampai di tempat musuh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan dalam hati musuh rasa takut dan gentar terhadap kaum muslimin.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ
“Aku ditolong (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala) dengan kegentaran pada musuh dari jarak sebulan perjalanan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir radhiyallahu'anhu]
Namun apa yang kita saksikan hari ini, sungguh jauh kenyataan kaum muslimin dari kejayaan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu’anhum. Sehingga sangat layak untuk kita bertanya-tanya, masihkah kita berjalan di atas jalan yang benar dalam beragama, yang dengan sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan dan menolong kita!?
Tragedi Palestina telah menelan korban jiwa ribuan bahkan mungkin jutaan kaum muslimin sampai hari ini, pada saat yang sama milyaran kaum muslimin, tidak ada yang mampu untuk menyelamatkan saudara-saudaranya di bumi Palestina dengan segera. Dan ini hanyalah salah satu gambaran kaum muslimin hari ini. Betapa lemahnya kita.
Padahal, kalau kita mau melihat kembali kepada Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau shallallahu’alaihi wa sallam telah menjelaskan sebab kelemahan dan terhinanya kaum muslimin serta solusi untuk kembali kuat dan mulia.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا. فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
“Hampir-hampir ummat-ummat (yang kafir) menguasai kalian seperti berkerumunnya orang-orang memperebutkan makanan”. Maka berkatalah seseorang, “Apakah karena sedikitnya kita (kaum Muslimin) ketika itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian pada waktu itu banyak jumlahnya, akan tetapi kalian seperti buih banjir, dan Allah menghilangkan kewibawaan kalian dari hati-hati musuh kalian serta melemparkan ke dalam hati-hati kalian kelemahan”. Maka berkata seseorang, “Wahai Rasulullah apakah penyebab kelemahan tersebut?” Beliau bersabda, “Cinta dunia dan benci kematian”.” [HR. Abu Daud dari Tsauban radhiyallahu'anhu, Ash-Shahihah: 958]
Dari hadits ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa, diantara sebab kehinaan kaum muslimin adalah kecintaan kepada dunia. Sehingga dengan sebab itu, mereka lalai dari mengingat Allah Ta’ala, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, bahkan terkalahkan kecintaan mereka kepada Allah Ta’ala oleh kecintaan kepada dunia.
Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Tidak akan masuk ke dalam hati seseorang kecintaan kepada Allah Ta’ala jika ada dalam hatinya kecintaan kepada dunia, kecuali seperti masuknya onta ke lubang jarum (yakni mustahil).” [Al-Fawaid, hal. 98]
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Jika kalian telah melakukan jual beli dengan cara ‘inah dan kalian memegang ekor-ekor sapi, ridho dengan pertanian dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian. Dia tidak akan mengangkat kehinaan tersebut dari kalian, sampai kalian kembali kepada agama kalian.” [HR. Abu Daud Ibnu Umar radhiyallahu'anhuma, Ash-Shahihah: 11]
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata dalam risalah “Asbaabu Tasalluthidz Dzulli ‘alal Muslimin [filisthiina-mitsaalan]“,
“Dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang solusi dan obat atas musibah yang menimpa kaum muslimin berupa kehinaan yang telah menguasai seluruh kaum muslimin. (Tidak ada yang selamat dari kehinaan ini) kecuali sedikit dari mereka yang senantiasa berpegang teguh dengan agama.
Sungguh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam hadits ini penyakit yang menimpa kaum muslimin yang dengan sebab itu Allah Ta’ala menghinakan mereka, kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan kepada mereka obat dan jalan selamat dari kehinaan tersebut”.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan dalam hadits ini tiga sebab kehinaan kaum muslimin:
Pertama: Melakukan Jual Beli dengan Cara ‘Inah
Ini adalah salah satu bentuk jual beli yang terlarang dalam Islam karena mengandung riba’ di dalamnya. Padahal betapa banyak praktek-praktek riba’ yang kini merebak di tengah-tengah kaum muslimin. Diantara yang paling banyak tersebar adalah riba’ qordh, yaitu riba’ dalam hutang piutang yang distilahkan dengan “bunga”, yaitu seorang meminjam dengan syarat dikembalikan melebihi dari jumlah pinjamannya, atau seorang pemberi pinjaman mengambil manfaat dari piutang yang dia berikan kepada peminjam. Bahkan bentuk riba’ seperti ini dilegalkan dalam lembaga-lembaga keuangan di banyak negeri kaum muslimin.
Dan yang penting untuk dipahami –sebagaimana yang dijelaskan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah- bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyebutkan jual beli dengan cara ‘inah ini hanyalah sebagai contoh, bukan pembatasan. Yaitu satu contoh dari sekian banyak pelanggaran syari’at dan perkara-perkara haram yang dilakukan oleh kaum muslimin.
Padahal masih banyak penyimpangan-penyimpangan dalam agama yang dilakukan oleh kaum muslimin hari ini yang lebih besar dosanya dari riba’. Seperti mendatangi kuburan-kuburan untuk berdoa kepada para penghuni kubur tersebut, mempercayai perdukunan, peramalan dan lain-lain yang termasuk kekufuran serta kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Maka bagaimana mungkin kaum muslimin akan ditolong oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid pernah menjelaskan bahwa, diantara hikmah yang bisa dipetik dari kisah terpukulnya kaum muslimin di Perang Uhud adalah karena ketidaktaatan pasukan pemanah terhadap satu saja perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, yaitu untuk tetap berada di atas bukit.
Namun mereka turun dari bukit tersebut karena mengira kaum muslimin telah menang dan mereka lupa dengan perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Maka bagaimana mungkin pada hari ini kaum muslimin akan menang melawan orang-orang kafir dalam keadaan mereka tidak mentaati banyak sekali perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam!?
Oleh karena itu, solusi dalam hadits ini sungguh sangat mencocoki keadan kaum muslimin hari ini yang banyak menyelisihi perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, yakni kembali kepada agama Allah Ta’ala, bukan kembali (secara langsung) ke medan jihad, tetapi persiapan keimanan dan juga persiapan fisik.
Dan untuk itu, boleh bagi kaum muslimin untuk mengikat perjanjian gencatan senjata sementara waktu dengan orang-orang Yahudi atau pun berhijrah meninggalkan Palestina.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pun pernah mengikat perjanjian dengan dengan kaum musyrikin, orang-orang yang lebih buruk dari Yahudi, yaitu pada perjanjian Hudaibiyah.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga melakukan hijrah ke Madinah meninggalkan kota Makkah, bumi yang lebih mulia dari bumi Palestina. Meninggalkan masjid Al-Haram yang lebih mulia dari masjid Al-Aqsho, semua itu demi mempersiapkan kekuatan kaum muslimin dengan kekuatan iman maupun kekuatan fisik.
Kedua: Kesibukan Mengejar Dunia yang Melalaikan dari Ibadah
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Jika kalian telah memegang ekor-ekor sapi dan ridho dengan pertanian”. Inilah sesungguhnya salah satu sebab kehancuran kaum muslimin, ketika mereka lalai dari sebagian bahkan seluruh kewajiban mereka dalam beribadah kepada Allah Ta’ala disebabkan karena kesibukan mengejar dunia yang sedikit ini dan berlomba-lomba dalam kemewahan, padahal Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan,
مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَط الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ
“Bukanlah kefakiran yang aku takuti menimpa kalian, akan tetapi yang aku takutkan adalah dibentangkannya dunia atas kalian sebagaimana telah dibentangkan atas umat sebelum kalian, maka kalianpun berlomba-lomba mengejar dunia sebagaimana mereka melakukannya, sehingga dunia membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Ketiga: Meninggalkan Jihad
Perkara ini juga hanyalah contoh dari berbagai kewajiban agama yang banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin. Sedangkan kewajiban agama yang paling tertinggi adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan beribadah hanya kepada-Nya, mengikhlaskan agama hanya bagi-Nya dan menjauhi segala macam bentuk kesyirikan dan kekufuran.
Maka ketika penyakit-penyakit ini telah mewabah dalam tubuh kaum Muslimin, Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpakan kehinaan kepada mereka sebagai akibat dari kezaliman mereka sendiri.
Bagaiaman Solusinya?
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Penyayang dan Maha Hikmah, melalui lisan Nabi-Nya yang mulia shallallahu’alaihi wa sallam, sesungguhnya telah menjelaskan solusi untuk kembali kepada kejayaan kaum muslimin dan terangkatnya kehinaan ini dengan, “Kembali kepada agama-Nya”. Inilah yang diperlukan kaum muslimin sebelum kembali ke medan jihad.
Dan “kembali kepada agama-Nya” yang dimaksudkan tentunya adalah kembali kepada ajarannya yang asli yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang sesuai dengan pemahaman para sahabat radiyallahu’anhum.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّة , وَتَفْتَرِق أُمَّتِي عَلَى ثَلَاث وَسَبْعِينَ مِلَّة , كُلّهمْ فِي النَّار إِلَّا مِلَّة وَاحِدَة , قَالُوا : مَنْ هِيَ يَا رَسُول اللَّه ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي 
“Sesungguhnya Bani Israil telah berpecah menjadi 72 golongan, dan ummatku akan berpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu”. Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yang mengikuti aku dan para sahabatku”.” [HR. At-Tirmidzi, no. 2641, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah, no.171 pada tahqiq kedua]
Hadits ini juga menjelaskan sebab dan solusi atas perpecahan umat Islam, bahwa perpecahan dikarenakan sebagian umat mengada-adakan cara baru (bid’ah) dalam agama, tidak meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu’anhum. Maka solusinya adalah kembali kepada sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu’anhum ajma’in, serta meninggalkan semua bentuk bid’ah dan kesesatan.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Tidak ada komentar:

Posting Komentar